Bagian kedua : Melihat Sosok Dibalik Lukisan Bawah Jembatan Sungai Kahayan

Liputan SBM, Palangka Raya – Lampang memiliki bakat melukis sejak kecil. Saat di taman kanak-kanak, ia menjuarai perlobaan lukis. Bakatnya terus berkembang dan menjuarai lebih dari 26 perlombaan hingga di SMAN 3 Palangka Raya. Pada 1989, Lampang melanjutkan studi di Jurusan Seni Murni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Lampang mengatakan, lukisannya merupakan campuran antara realis, ekspresif, abstrak dan surealis. Namun, tema yang menjadi minatnya adalah kebudayaan suku Dayak,mulai dari motif, tari-tarian, senjata, hingga simbol-simbol lintas agama.

Bagi saya, melukis adalah ekspresi jiwa. Jiwa tumbuh dan berkembang tidak lepas dari agama dan budaya tempat saya dilahirkan. Itu akan tetap ada sampai kapan pun dan mengalir begitu saja saat melukis, “kata ayah dari Rafael Rakapela (6). Selain di kolong jembatan Kahayan, ornament dan lukisan motif suku Dayak karya Lampang juga ada di Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah dan gedung pertemuan Palampang Tarung Kota Palangkaraya. Lampang menggarap ornamen dan lukisan itu sekitar 1995-1998 saat bekerja sebagai konsultan perencanaan di PT Betang Asri dan PT Buana Asri.

Lampang pernah membuka kursus melukis pada 2002-2009 di rumahnya di Palangka Raya dengan nama Kahalap (keindahan). Lebih dari 100 anak pernah menjadi muridnya. Sanggar lukisannya berhenti karena Lampang memilih membesarkan anak semata wayangnya yang telah 12 tahun dinantikan kehadirannya. Meski demikian, Lampang tetap melukis. Sebulan, rata-rata empat lukisan dihasilkan.

Saat ini lebih dari 300 lukisan selesai di garap. Kendati rekan-rekannya pelukis sempat mengejek Lampang sebagai “pelukis yang ber-NIP (nomor induk pegawai)” karena menjadi aparatur sipil Negara, Lampang tetap aktif mengikuti pameran. Saat ini, Lampang menjabat sebagai Ketua Komunitas Perupa Kalimantan wilayah Kalimantan Tengah.

Lampang mengharapkan, tradisi dan seni budaya suku Dayak bisa tetap lestari dan dikenal banIa berharap lukisan di bawah jembatan itu tidak di rusak. “Motif dan lukisan suku Dayak itu juga di harapkan bisa menjadi identitas kota Palangkaraya,”katanya.

Februarison Lampang S Tandang

Lahir : Tumbang Rahuyan, Gunung Mas, Kalteng 12 Februari 1970

Pendidikan : SMA N 3 Palangkaraya dan Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta (1989-1994)

Istri : Ira Katarina (46)

Anak : Rafael Rakapela (6)

Pekerjaan : Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Teknis Seni di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palangkaraya

Pameran :

Pameran Dies Natalis ISI Yogyakarta
Pameran Seni Rupa Nusantara I di Jakarta, Tahun 2000
Pameran tunggal Seni Rupa 2002 di Palangkaraya
Pameran seni rupa di Museum Affandi Yogyakarta
Pameran tunggal di Museum Balanga Palangka Raya, tahun 2006
Pameran seni rupa 2008,2009,2010 di Palangka Raya
Pameran seni lukis perupa Kalimantan dan Yogyakarta di Martapura, Kalimantan Selatan.
Kegiatan lain :

Membuat perahu Tingang di Festival Auckland New Zealand tahun 2005
Merancang logo kabupaten katingang, Kalteng. (Tim Redaksi) #liputansbm

Sumber : Dari berbagai sumber media online

Pencarian Terkait

Tinggalkan pesan "Bagian kedua : Melihat Sosok Dibalik Lukisan Bawah Jembatan Sungai Kahayan"