Melihat Sosok Dibalik Lukisan Bawah Jembatan Sungai Kahayan

Liputan SBM, Palangka Raya – Kolong jembatan sungi Kahayan yang kumuh dengan sampah pedagang buah dan dindingnya penuh coretan vandalisme, kini bersih dan cerah. Lukisan dinding pemuda suku Dayak yang gagah berlatar naga atau dikenal dengan tambun dan pemudi suku Dayak menghiasi kolong jembatan yang jadi ikon kota palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Lukisan berjudul “tari dadas” dan “kasiak tambun” karya Februarison Lampang S Tandang (45) pada dinding penyangga berukuran 3,5 meter x 11 meter itu pun sering dijadikan latar belakang foto mereka yang telah datang berkunjung. Jembatan Sungai Kahayan sepanjang 645,5 meter itu diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 13 Januari 2002. 

Jembatan ini menghubungkan kota Palangka Raya dengan Kabupaten Gunung Mas, Barito Utara, Barito Timur, Barito Selatan dan Murung Raya, Kalimantan Tengah. Sungai kahayalan adalah salah satu dari sebelas sungai besar di Kalimantan Tengah. Panjang sungai ini sekitar 600 kilometer dengan lebar rata-rata 450 meter dan kedalaman 7 meter.

Lampang mengisahkan, awalnya lukisan-lukisannya menjadi hiasan kalender instansi pemerintahan. Kemudian, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Tengah tertarik membuat lukisan itu di kolong jembatan sambil melakukan perawatan rutin. Lampang yang bekerja sebagai pegawai Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palangka Raya pun menerima tawaran untuk mempercantik kolong Jembatan Sungai Kahayan.

Lukisan dinding “kasiak tambun” melambangkan kegagahan pemuda suku Dayak seperti seekor naga. Kasiak berarti ganas dan tambun berarti naga. Pemuda itu bersenjatakan Mandau dan telawang atau perisai khas suku Dayak. Di sampingnya, dalam lukisan berjudul “Tari Dadas” oleh seorang pemudi berbusana merah. Tarian ini zaman dulu bisa diperagakan sebagai tarian ritual penyembuhan orang sakit. Namun, saat ini Tari Dadas biasa digunakan sebagai tari penyambutan tamu.

“Lukisan itu melambangkan keseimbangan antara sisi maskulin dan feminism yang saling melengkapi. Sifat maskulin yang gagah berani itu melindungi dan Tari Dadas juga melambangkan keterbukaan suku Dayak kepada para pendatang,” kata Lampang.

Selain kedua lukisan itu, pada sisi kanan dan kiri dinding jalan yang berukuran panjang 50 meter menuju jembatan Kahayan juga dibuat motif Tambun Bungai, yaitu lambang penguasa alam atas dan alam bawah dunia. Motif tambun atau naga yang meliuk-liuk sebagai penguasa alam bawah. Namun, pada bagian kepala burung tingang atau enggang. Burung ini disakralkan oleh suku dayak karena melambangkan penguasa alam atas.

Lampang menggunakan lima ba sebagai warna, yaitu baputi (putih), bahandang (merah), bahenda (kuning), bahijau (hijau), dan babilem (hitam) yang menjadi simbol warna Kalimantan Tengah. “Putih bermakna suci, merah berani, kuning kejayaan atau keemasan, hijau kemakmuran atau kesuburan, dan hitam bermakna kekuatan atau karisma,” kata suami dari Ira Katarina (46) itu. Lampang menyelesaikan lukisan-lukisan selama sebulan, sejak 21 Maret hingga 21 April 2015. 

Dia bersama tujuh pelukis di Palangka Raya melukis di luar jam kantor, yaitu pada sore hingga subuh. Khusus lukisan “Kasiak Tambun” dan “Tari Dadas”, lampang menggarapnya sendiri selama 5 hari. Ketujuh rekannya, yaitu Tria, Liktarson, Juli Satrio, Sevena A, Farn, Tengang, dan Aca membantu menyelesaikan lukisan motif Tambun Bungai dan Telawang. (Bersambung)

Tim Redaksi #liputansbm

Sumber : Dari berbagai sumber media online  

Pencarian Terkait

Tinggalkan pesan "Melihat Sosok Dibalik Lukisan Bawah Jembatan Sungai Kahayan"