JEJAK TRAGIS PELADANG DENGAN LAHAN 50 x 70 M2 DITUNTUT JAKSA 3 TAHUN PIDANA PENJARA & DENDA 3 MILYAR RUPIAH (Subs.1 Bulan) Bagian Kedua

Liputan SBM, Muara Teweh – Dalam Sesi Sidang berikutnya Ketua Majelis Hakim PN.Muara Teweh memberikan kesempatan Penasehat Hukum Terdakwa untuk menghadirkan saksi-saksinya, yaitu : Saksi Mulyono (tetangga yang lahannya berbatasan langsung dengan terdakwa), Saksi Bertho Kuling Kondrat (Anggota Dewan Adat Dayak Kabupaten Murung Raya), Saksi Syahruddin (Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara-AMAN Kabupaten Murung Raya), dan Saksi Arya Dwi Cahya (Manajer Data Informasi LSM Badan Registrasi Wilayah Adat-BRWA).

Saksi Mulyono menjelaskan dipersidangan, mengatakan melihat langsung Terdakwa Saprudin Als.Sapur Bin Marwani (alm) membakar lahannya pada tanggal 17 Agustus 2019 yang terletak di DAS Barito Desa Juking Panjang, sedangkan pada tanggal 18 Agustus 2019 terdakwa Saprudin Als.Sapur Bin Marwani (alm) hanya mengumpulkan sisa-sisa ranting untuk dijadikan api unggun di lokasi lahannya sembari membuat pagar keliling dilokasi lahannya.

Saksi Bertho Kuling Kondrat yang mewakili Dewan Adat Dayak Kabupaten Murung Raya, menjelaskan kepada Majelis Hakim PN.Muara Teweh, bahwa berladang dengan cara membakar lahan sudah merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Dayak Kalimantan Tengah  yang dilakukan secara turun temurun dari jaman dahulu kala sebagaimana yang tercantum didalam Riwayat Perjanjian Tumbang Anoi Tahun 1984.

Sementara itu Saksi Syahruddin, mejelaskan pernah turun ke lokasi milik Terdakwa Saprudin Als.Sapur Bin Marwani (Alm) yang terletak di DAS Barito Desa Juking Panjang Kab.Murung Raya pada tanggal 20 Januari 2020.

Lebih jauh Syahruddin menjelaskan bahwa Terdakwa Saprudin Als.Sapur Bin Marwani (Alm) merupakan peladang tradisional yang bercocok tanam palawija yang wajib dilindungi hak-haknya sebagai masyarakat yang senantiasa melestarikan kearifan lokal sebagaimana yang tercantum didalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.10 Tahun 2010 didalam Pasal 4.

“Pada intinya bahwa masyarakat adat diberikan hak untuk dapat membakar lahan maksimum 2 hektar setiap kepala keluarga dengan kewajiban memberitahukan kepada Kepala Desanya”, ungkapnya dengan nada yang penuh ketegasan.

Lain halnya kesaksian Ahli Arya Dwi Cahya, beliau menjelaskan secara rinci mengatakan, berdasarkan Surat Tugas dari Kepala Badan Registrasi Wilayah Adat No.004/BRWA/I/2020 tertanggal 17 Januari 2020 sebagai Saksi Ahli dibidang Pencitraan Satelit.

saksi juga memperlihatkan kepada Majelis Hakim melalui laptop tentang gambaran kebakaran lahan pada tanggal 18 September 2020 dilokasi Terdakwa Sapur Als.Saprudin Bin Marwani (Alm) terlihat sangat kecil (yaitu lahan yang berukuran 50 x 70m2) berbeda dengan lokasi yang tidak jauh dari lokasi terdakwa ada lahan lain (sekitar 8 hektar) yang telah terbakar lebih luas lahannya dari milik terdakwa.

saksi juga menyerahkan bukti tertulis tentang gambaran pencitraan satelit terkait lokasi milik lahan terdakwa Saprudin Als.Sapur Bin Marwani (alm) sesuai lokasi titik kordinat lahan milik terdakwa Saprudin yang terletak di DAS Barito Desa Juking Panjang Kabupaten Murung Raya. #liputansbm
Nantikan Lanjutan Beritanya

Penulis : Yohanes Eka Irawanto, SE

Pencarian Terkait

Tinggalkan pesan "JEJAK TRAGIS PELADANG DENGAN LAHAN 50 x 70 M2 DITUNTUT JAKSA 3 TAHUN PIDANA PENJARA & DENDA 3 MILYAR RUPIAH (Subs.1 Bulan) Bagian Kedua"