Pendidikan Media, Cerdaskan Anak Bangsa di Tengah Corona

Liputan SBM, Palangka Raya – KAMIS (9/3) pukul 14.30 – 16.15 WIB berlangsung diskusi daring yang seru dan mencerdaskan di Zoom Clouds meeting. Diskusi bertajuk ” Pendidikan Media di Tengah Pandemi” ini menghadirkan dua orang pembicara yang kompeten di bidangnya. Kedua pembicara tersebut adalah Budi Nurgianto seorang koresponden Tempo, dan Yanuardi Syukur, seorang antropolog dan founder Rumah Produktif Indonesia.

Diskusi yang diselenggarakan oleh Sabua Foundation ini terus terang membuat saya pribadi tercerahkan dalam memandang persoalan media dan jurnalisme di negeri ini.

Pemateri pertama, Budi Nurgianto, menjelaskan bahwa ada dua jenis model media, yaitu media konvensional yang banyak berorientasi bisnis, dan media sosial.

Menurut data dewan pers tahun 2019, media konvensional di indonesia mencapai angka yang cukup fantastis, diantaranya: media online sebanyak 43.000, media cetak 793, Televisi ada 394, dan radio sebanyak 2.301.

Adapun pengguna aktif media sosial di Indonesia adalah sebanyak 150 juta orang. Pengguna media sosial ini terdiri dari 19,5 juta akun twitter, 65,5 juta akun facebook, 150 juta akun youtube, 56 juta akun instagram dan 143 juta pengguna whatsapp.

Sungguh angka yang sangat luar biasa. Kalau kita lihat dari data di atas, masyarakat Indonesia ternyata cukup melek dengan IT dan sangat update dengan perkembangan zaman.

Namun sayang sekali jumlah pengguna media sosial yang sangat besar tersebut tidak diiringi dengan budaya literasi.

WHO merilis bahwa dari total 275 juta jiwa jumlah rakyat Indonesia, hanya 0,001 persen atau hanya sekitar 250 ribu orang saja yang memiliki minat baca yang tinggi. Dan kalau dirata-ratakan, potret literasi pemuda indonesia dalam hal membaca, mereka hanya menamatkan 27 halaman buku saja pertahun. Sungguh sangat ironi sekali di tengah pesatnya pertumbuhan jumlah pengguna media sosial di negeri ini.

Faktor rendahnya budaya literasi ini membuat masyarakat sangat mudah percaya dengan berita-berita hoax. Oleh karena itu pendidikan media untuk masyarakat mutlak dibutuhkan. Apalagi di tengah pandemik yang sedang menyebar luas saat ini.

Budi menjelaskan, di akhir bulan januari 2020 saja, jumlah berita hoax terkait corona di Indonesia adalah 241 isu, lebih tinggi daripada hoax pada saat pemilihan presiden yang hanya mencapai 150 isu.

Ada dua faktor penyebab utama hoax menyebar sangat cepat di negeri ini, yaitu: sikap kritis publik yang rendah, serta minimnya budaya literasi dalam masyarakat kita.

Lalu apa pentingnya pendidikan media bagi masyarakat? Dalam penjelasannya Budi mengatakan setidaknya ada tiga alasan mengapa pendidikan media menjadi sangat penting:

Pertama, pendidikan media akan membantu publik membedakan antara yang hoax dan tidak.

Masyarakat akan dapat menyaring berita-berita yang berseliweran dan mampu menyaring berita yang layak dipercaya.

Kedua, pendidikan media akan membantu publik semakin cerdas dalam memilih saluran-saluran yang bermanfaat.

Ketiga, pendidikan media akan membantu publik bijak dalam berbagi informasi.

Sehingga pola asal share/sebar setiap info pertama yang didapatkan tanpa terlebih dulu melakukan verifikasi dapat diminimalisir.

Diskusi daring berdurasi 105 menit ini, juga diisi oleh sebuah materi cerdas dari sudut pandang antropolog, Yanuardi Syukur. Pada kesempatan ini, Yanuardi memulai materinya dengan menitikberatkan pada dua hal yaitu sikap kita terhadap suatu masalah, dan respon masyarakat terhadap media.

Dia memulai pemaparannya dengan sebuah ayat alquran yaitu surat Alkahfi ayat 60. Yang terjemahannya adalah sebagai berikut:

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.

Ada tiga poin sikap nabi musa yang dapat kita tangkap dari ayat di atas, yaitu:

Pertama, tidak akan berhenti berjalan.

Dalam kaitannya dengan topik diskusi kali ini, kita mengambil pelajaran bahwa setelah kita membaca sebuah berita, sikap kita semestinya adalah tidak berhenti pada berita itu saja. Carilah sumber-sumber lain sebagai pembanding dari berita pertama yang kita dapatkan, sehingga kita dapat menganalisa tingkat kevalidan berita pertama tadi.

Kedua, harus sampai ke tujuan.

Kita dituntun agar memastikan berita yang kita cari itu benar-benar berhasil didapatkan sampai pada ke tahap kebenaran relatif. Dimana hati kita meyakini bahwa berita yang kita dapatkan tersebut dapat terjamin kebenarannya.

Ketiga, kalau belum sampai pada tujuan, jangan berhenti, teruslah berjalan.

Kalau berita yang kita terima itu masih belum dapat diterima kebenarannya oleh nurani kita, maka teruslah mencari tahu tanpa henti. Barangkali sampai ke perut bumi, atau bahkan sampai kita meneliti setiap sudut langit dalam mencari kebenarannya.

Surat Alkahfi ayat 60 di atas mengajarkan kepada kita keutamaan sifat yang melekat pada seorang Nabi Musa. Beliau adalah seorang nabi yang sangat cinta pada kebenaran, dan juga sangat cinta akan ilmu. Bukti seorang yang cinta ilmu adalah, dia akan banyak bertanya pada orang yang juga berilmu, bukan pada sumber-sumber atau orang-orang yang tidak jelas kebenarannya.

Selanjutnya, Yanuardi menjelaskan tentang bagaimana pola masyarakat dalam merespon sebuah berita. Dia membagi masyarakat ke dalam tiga kelompok, yaitu:

Pertama, kelompok yang percaya bulat-bulat pada sebuah berita yang didapatkannya.

Kelompok ini biasanya mereka yang fanatik dengan media tertentu saja. Misalnya, ada orang yang begitu menyukai majalah Tempo. Setiap berita yang dikeluarkan oleh media tersebut, akan dia telan bulat-bulat tanpa terlebih dahulu melakukan verifikasi. Padahal tidak menutup kemungkinan, sesekali berita yang dikeluarkan oleh media tersebut bisa jadi adalah berita hoax yang kebenarannya diragukan.

Kedua, kelompok yang ragu-ragu.

Orang-orang yang skeptis ini tidak akan langsung percaya dengan berita yang mereka terima. Mereka akan terlebih dahulu melakukan komparasi berita tersebut dengan berita serupa dari sumber lain. Bahkan tidak cukup satu sumber berbeda, mereka akan mencari banyak sumber lain, hingga mereka sampai pada satu kebenaran relatif yang mereka yakini.

Ketiga, kelompok masyarakat yang tidak percaya atau bersikap antipati dengan semua berita yang mereka terima.

Dari ketiga kelompok di atas, saya bisa menyimpulkan bahwa kelompok yang kedua adalah kelompok yang paling ideal dalam menyikapi sebuah berita, dan memang seharusnya kita bersikap demikian. Kita perlu untuk mengawali sikap kita ketika menerima sebuah berita itu dengan keraguan. Keraguan membuat kita tidak puas, dan akhirnya tak henti mencari sampai kita mendapatkan kebenaran.

Jurnalis juga harus menjalankan perannya sebagai sarana pencerdasan masyarakat. Buatlah berita yang membangun optimisme dan nilai-nilai positif bagi masyarakat.

Penjelasan kedua pemateri tadi benar-benar membuka mata dan cakrawala berpikir saya, bahwa pendidikan media itu sangat penting dan perlu.

Apalagi di tengah pandemik yang sedang terjadi hari ini. Sifat kritis kita akan sebuah berita akan dapat menghindarkan diri kita dari rasa khawatir berlebihan terhadap berita yang tersebar.

Hidupkan budaya literasi dalam diri kita, dan tularkan budaya ini pada orang-orang terdekat. Jangan pernah berhenti mencari ilmu dan mencari tahu kebenaran akan sesuatu. Agar kita tidak melulu menjadi korban hoax yang membuat kita tenggelam dalam berita-berita semu. (Redaksi) liputansbm

Penulis :  MAGDHDALENA, Pegiat Rumah Produktif Indonesia

Pencarian Terkait

Tinggalkan pesan "Pendidikan Media, Cerdaskan Anak Bangsa di Tengah Corona"