Kebijakan Mendikbud Ditengah Pandemi Virus Corona Membuat Mahasiswa dan Pelajar Dilema

Liputan SBM, Palangka Raya – Penyebaran wabah virus corona atau covid19 sudah menjadi musuh utama yang deperangi negeri ini. bukan soal nyawa yang banyak melayang akan tetapi pengaruh besar untuk ekonomi,sosial dan juga pendidikan sangat meresahkan.
Pengamat pendidikan Najeela Shihab pernah mengatakan bahwa ada tiga masalah utama dari sekian banyak masalah pendidikan di indonesia. yang pertama soal Akses, masih banyak sekali kesulitan akses, masih banyak anak yang sebetulnya putus sekolah atau tidak mendapatkan pendidikan yang harusnya mereka dapatkan.kedua, masalah kualitas. Menurutnya, anak-anak yang bersekolah pun belum tentu mendapatkan kualitas pembelajaran sebagaimana seharusnya. Sedangkan ketiga yakni masalah kesenjangan,”Di Semua Murid Semua Guru, pada saat kita bicara integrasi fisik kita ingin pemerataan pendidikan.

Untuk manjawab masalah itu mendikbud meluncurkan program merdeka belajar. Program tersebut meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional ( UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi. Empat program pokok kebijakan pendidikan tersebut akan menjadi arah pembelajaran ke depan.

Satu bulan yang lalu mendikbud kembali mengeluarkan enam kebijakan, dasar dari kebijakan itu salah satunya ialah untuk mengatasi pendemi penyebaran virus corona yang kian merajalela.
enam kebijakan itu ialah Ujian Nasional,Ujian Sekolah,Kenaikan Kelas,Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Dana Bantuan Operasional Sekolah, Proses Belajar dari Rumah.

Dari keenam kebijakan itu saya tertarik untuk mengulas tentang proses belajar dari rumah. Belajar dari rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.Belajar dari Rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19. Aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses atau fasilitas belajar di rumah.
Baru-baru ini begitu banyak siswa dan juga mahasiwa mengeluh soal pembelajaran dari rumah dengan sistem daring ini. keluhan yang paling utama adalah soal akses dan kualitas dari sistem itu.

Soal akses, bagi siswa yang Tinggal diperkotaan masalah ini mungkin tidak terlalu di pikirkan karena begitu mudahnya mreka mendapatkan jaringan internetan,akan tetapi bagaimana dengan siswa ataupun mahasiswa yang tinggal di pedalaman, selain masalah jarak masalah ketersedian jaringan internetan pun menjadi masalah yang sangat serius. terkadang mereka harus memanjat pohon dan naik bukit untuk bisa mendapat jaringan , itupun belum tentu jaringan selancar dengan yang di kota.

Selain itu masalah akses ini pun membuat mreka harus berkorban untuk membeli paket internet, ini bukan hanya menjadi masalah bagi siswa dan mahasiswa tinggal pedalaman, siswa dan mahasiswa yang tinggal diperkotaan juga mengeluh soal ini. pada hal kita tahu bahwa begitu susahnya orang tua mreka mencari uang saat pandemi ini. belum lagi jika orang tuanya kena PHK atau dirumah kan oleh perusahan. memang beberapa minggu trakhir ini banyak sekali pihak, baik swasta maupun pemerintah menyalurkan paket sembako untuk masyarakat akan tetapi sembako itukan tidak bisa kita gunakan untuk membeli paket internetan karen bukan dalam bentuk tunai.

Yang kedua soal kualitas, hal ini harus-nya menjadi penting dalam proses belajar mengajar. namum semenjak adanya sistem daring, siswa dan mahasiwa juga banyak yang kecewa. beberapa hal yang membuat mreka kecewa seperti : materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dan dosen rata-rata tidak menegrti, terlalu banyak tugas yang diberikan membuat mereka capeh,tidak diberikan ruang bagi siswa untuk bertanya apa yang mreka tidak mengerti soal pokok pembelajaran dari guru dan dosenya.belum lagi bagi siswa ataupun mahasiswa yang berkebutuhan khusus contohnya cacat mata,dan juga cacat pendengaran.
Pada hal tujuan utama dari pengajaran ialah penguasaan materi pembelajaran, dimana keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru ataupun dosen.

Oleh karena itu, harapan sebagai siswa dan juga mahasiswa adalah pemerintah baik pusat maupun daerah lebih khusus jajaran kementrian pendidikan dan kebudayaan perlu memikir solusi dari masalah ini. jangan hanya tarif PLN yang di gratis kan akan tetapi paket internetan juga perlu digratiskan untuk beberapa bulan kedepan agar bisa membantu siswa dan mahasiswa yang tergolong ekonomi lemah atau tidak mampu. kemudian pemeratan akses juga merupakan hal yang penting untuk direalisasikan agar tidak ada lagi siswa dan mahasiswa yang naik pohon bahkan naik gunung. ibaratnya belum bisa dikatakan merdeka belajar bila sinyal nya juga belum merdeka. #liputansbm

Penulis : Fabianus

Pencarian Terkait

Tinggalkan pesan "Kebijakan Mendikbud Ditengah Pandemi Virus Corona Membuat Mahasiswa dan Pelajar Dilema"